Logika algoritma


LOGIKA & ALGORITMA 
Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.


Pada Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, istilah algoritma diartikan sebagai prosedur langkah demi langkah untuk memecahkan masalah atau menyelesaikan suatu tugas. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan algoritma sebagai urutan logis pengambilan keputusan untuk pemecahan masalah.
Algoritma adalah urutan langkah – langkah logis penyelesaian masalah yang disusun secara sistematis dan logis. Logis merupakan kunci dari sebuah algoritma. Langkah – langkah dalam algoritma harus logis dan bernilai benar atau salah.

Kriteria Pemilihan Algoritma
  1. Ada Output, mengacu pada definisi algoritma, suatu algoritma haruslah mempunyai output yang harus merupakan solusi dari masalah yang sedang diselesaikan
  2. Efektifitas dan Efesiensi, Dikatakan efektif jika algoritma tersebut menghasilkan suatu solusi yang sesuai dengan masalah yang diselesaikan dalam arti algoritma harus tepat guna.Dikatakan efisiensi jika waktu proses suatu algoritma relatif lebih singkat dan penggunaan memori komputernya lebih sedikit.
  3. Jumlah Langkahnya Berhingga, maksudnya adalah barisan instruksi yang dibuat harus dalam suatu urutan tertentu atau harus berhingga agar masalah yang dihadapi dapat diselesaikan dengan tidak memerlukan waktu relatif lama.

Keuntungan Pembuatan Algoritma
  1. Pembuatan atau penulisan algoritma tidak tergantung pada bahasa pemrograman manapun, artinya penulisan algoritma independen dari bahasa pemrograman dan komputer yang telaksanakannya.
  2. Notasi algoritma dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa pemrograman.
  3. Apapun bahasa pemrogramannya, output yang akan dikeluarkan sama karena algoritmanya sama.
Sifat – Sifat Algoritma
  1. Banyaknya Langkah Instruksi Harus Berhingga,
  2. Langkah atau Instruksi harus Jelas,
  3. Proses harus Jelas dan mempunyai batasan,
  4. Input dan Output harus mempunyai Batasan,
  5. Efektifitas,
  6. Adanya Batasan Ruang Lingkup,
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat algoritma:
  1. Teks algoritma berisi deskripsi langkah-langkah penyelesaian masalah. Deskripsi tersebut dapat ditulis dalam notasi apapun asalkan mudah dimengerti dan dipahami.
  2. Tidak ada notasi yang baku dalam penulisan teks algoritma seperti notasi bahasa pemrograman. Notasi yang digunakan dalam menulis algoritma disebut notasi algoritmik.
  3. Setiap orang dapat membuat aturan penulisan dan notasi algoritmik sendiri. Hal ini dikarenakan teks algoritma tidak sama dengan teks program. Namun, supaya notasi algoritmik mudah ditranslasikan ke dalam notasi bahasa pemrograman tertentu, maka sebaiknya notasi algoritmik tersebut berkorespondensi dengan notasi bahasa pemrograman secara umum.
  4. Notasi algoritmik bukan notasi bahasa pemrograman, karena itu pseudocode dalam notasi algoritmik tidak dapat dijalankan oleh komputer. Agar dapat dijalankan oleh komputer, pseudocode dalam notasi algoritmik harus ditranslasikan atau diterjemahkan ke dalam notasi bahasa pemrograman yang dipilih. Perlu diingat bahwa orang yang menulis program sangat terikat dalam aturan tata bahasanya dan spesifikasi mesin yang menjalannya.
  5. Algoritma sebenarnya digunakan untuk membantu kita dalam mengkonversikan suatu permasalahan ke dalam bahasa pemrograman.
  6. Algoritma merupakan hasil pemikiran konseptual, supaya dapat dilaksanakan oleh komputer, algoritma harus ditranslasikan ke dalam notasi bahasa pemrograman. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada translasi tersebut, yaitu:
  1. Pendeklarasian variabel Untuk mengetahui dibutuhkannya pendeklarasian variabel dalam penggunaan bahasa pemrograman apabila tidak semua bahasa pemrograman membutuhkannya
  2. Pemilihan tipe data Apabila bahasa pemrograman yang akan digunakan membutuhkan pendeklarasian variabel maka perlu hal ini dipertimbangkan pada saat pemilihan tipe data.
  3. Pemakaian instruksi-instruksi Beberapa instruksi mempunyai kegunaan yang sama tetapi masingmasing memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda.
  4. Aturan sintaksis Pada saat menuliskan program kita terikat dengan aturan sintaksis dalam bahasa pemrograman yang akan digunakan.
  5. Tampilan hasil Pada saat membuat algoritma kita tidak memikirkan tampilan hasil yang akan disajikan. Hal-hal teknis ini diperhatikan ketika mengkonversikannya menjadi rogram.
Cara pengoperasian compiler atau interpreter. Bahasa pemrograman yang digunakan termasuk dalam kelompok compiler atau interpreter.

TAHAPAN ANALISA ALGORITMA :
  1. Bagaimana merencanakan suatu algoritma.
Menentukan beberapa model atau desain sebagai penyelesaian dari suatu masalah untuk mendapat sebuah solusi yan mungkin. Dengan demikian, akan banyak terdapat variasi desain atau model yang dapat diambil yang terbaik.
  1. Bagaimana menyatakan suatu algoritma
Menentukan model suatu algoritma yang digunakan sehingga dapat membuat barisan langkah secara berurutan guna mendapatkan solusi penyelesaian masalah.
Analisis Suatu Algoritma
(Untuk melihat faktor efesiensi & efektifitas dari algoritma tersebut), Dapat dilakukan terhadap suatu algoritma dengan melihat pada :
  1. Waktu Tempuh (Running Time) dr suatu Algortima.
Adalah satuan waktu yang ditempuh atau diperlukan oleh suatu algoritma dalam menyelesaikan suatu masalah. Hal2 yg dapat mempengaruhi daripada waktu tempuh adalah :
1.       
    • Banyaknya langkah.
    • Besar dan jenis input data.
    • Jenis Operasi.
    • Komputer dan kompilator
  1. Jumlah Memori Yang Digunakan.
Syarat Sebuah Algoritma Yang Baik
  1. Tingkat kepercayaannya tinggi (realibility). Hasil yang diperoleh dari proses harus berakurasi tinggi dan benar.
  2. Pemrosesan yang efisien (cost rendah). Proses harus diselesaikan secepat mungkin dan frekuensi kalkulasi yang sependek mungkin.
  3. Sifatnya general. Bukan sesuatu yang hanya untuk menyelesaikan satu kasus saja, tapi juga untuk kasus lain yang lebih general.
  4. Bisa dikembangkan (expandable). Haruslah sesuatu yang dapat kita kembangkan lebih jauh berdasarkan perubahan requirement yang ada.
  5. Mudah dimengerti. Siapapun yang melihat, dia akan bisa memahami algoritma Anda. Susah dimengertinya suatu program akan membuat susah di-maintenance (kelola).
  6. Portabilitas yang tinggi (portability). Bisa dengan mudah diimplementasikan di berbagai platform komputer.
  7. Precise (tepat, betul, teliti). Setiap instruksi harus ditulis dengan seksama dan tidak ada keragu-raguan, dengan demikian setiap instruksi harus dinyatakan secara eksplisit dan tidak ada bagian yang dihilangkan karena pemroses dianggap sudah mengerti. Setiap langkah harus jelas dan pasti.
Contoh: Tambahkan 1 atau 2 pada x.
Instruksi di atas terdapat keraguan.
  1. Jumlah langkah atau instruksi berhingga dan tertentu. Artinya, untuk kasus yang sama banyaknya, langkah harus tetap dan tertentu meskipun datanya berbeda.
  2. Efektif. Tidak boleh ada instruksi yang tidak mungkin dikerjakan oleh pemroses yang akan menjalankannya.
Contoh: Hitung akar 2 dengan presisi sempurna.
Instruksi di atas tidak efektif, agar efektif instruksi tersebut diubah.
Misal: Hitung akar 2 sampai lima digit di belakang koma.
  1. Harus terminate. Jalannya algoritma harus ada kriteria berhenti. Pertanyaannya adalah apakah bila jumlah instruksinya berhingga maka pasti terminate?
  2. Output yang dihasilkan tepat. Jika langkah-langkah algoritmanya logis dan diikuti dengan seksama maka dihasilkan output yang diinginkan

https://sedekahmateri.blogspot.com/2013/05/pengertian-logika-dan-algoritma.html?m=1



Posted by : UnknownMinggu, 08 November 2015



Algoritma Kalimat Deskriptif, Salah satu notasi algoritma adalah kalimat deskriptif. Sebagaimana namanya, algoritma kalimat deskriptif adalah algoritma yang bentuknya berupa uraian kalimat yang menggambarkan langkah – langkah dalam menyelesaikan suatu masalah.

Contoh algoritma kalimat deskriptif dalam kehidupan sehari - hari:

Tahu Goreng Ala Cheff Pajar
Resep membuat tahu goreng ala cheff Pajar
ALGORITMA :
  1. Siapkan kompor, kuali, minyak goreng, tahu.
  2. Masukkan minyak goreng ke dalam kuali secukupnya.
  3. Hidupkan kompor.
  4. Masukkan tahu ke dalam kuali.
  5. Goreng hingga berubah warna menjadi hitam pekat.
  6. Angkat tahu goreng yang sudah matang dan siap disajikan.


Contoh lain dalam program:

Luas Persegi Panjang
Program Mencari Luas Persegi Panjang
ALGORITMA:
  1. Masukan lebar dan panjang persegi panjang.
  2. Lakukan operasi perkalian antara panjang dan lebar persegi panjang.
  3. Hasil perkalian merupakan luas dari persegi panjang.
  4. Tampilkan luas persegi panjang.
http://mp-kp.blogspot.com/2015/11/algoritma-kalimat-deskriptif.html?m=1

Flowchart

          Dalam membuat algoritma diperlukan suatu mekanisme atau alat bantu untuk menuangkan hasil pemikiran mengenai langkah-langkah penyelesain yang sistematis dan terurut. Penyusunan solusi sebagai alat untuk pemecahan masalah dapat disajikan dengan flowchart, merupakan skema penggambaran dari algoritma atau proses. Tabel berikut menyajikan simbol-simbol yang digunakan untuk menyusun flowchart.


Berikut merupakan contoh penyajian bentuk flowchart dari permasalahan membuat telor dadar




  • Struktur Flowchart

1. Struktur Sequence
          Struktur ini terdiri dari pernyataan yang tidak memppunyai unsur pperulangan atau keputusan di dalamnya
Contoh algoritma memecahkan masalah dalam program untuk sequence , kasus perhitungan luas dan volume balok. Adapun volume dari balok adalah volume= (2*p*l)+(2*p*t)+(2*l*t) sedangkan luas suatu balok adalah luas=p*l*t catatan: p= panjang, l= lebar, t = tinggi
Algoritma dari permasalahan diatas adalah:
1. Masukkan panjang
2. Masukkan lebar
3. Masukkan tinggi
4. Luas = (2*p*l)+(2*p*t)+(2*l*t)
5. Volume = p*l*t
6. Tampilkan luas
7. Tampilkan volume
Adapun dengan penyajian flowchart sebagai berikut:

Keterangan dari algoritma diatas: pada baris pertama, kedua dan ketiga anda diminta untuk memasukkan input yang berkaitan dengan balok yaitu panjang , lebar,tinggi . Adapun panjang balok disimpan pada variabel panjang (p), lebar balok disimpan pada variabel lebar (l), tinggi balok disimpan pada variabel tinggi (t). Sedangkan pada baris keempat dan kelima anda diminta memasukkan rumus volume balok (2*p*l)+(2*p*t)+(2*l*t) dan luas balok adalah luas=p*l*t . Untuk luas balok disimpan pada variabel luas dan volume balok disimpan pada variabel volume . Baris enam dan tuuh merupakan hasil dari proses input dan proses perhitungan yang dimasukkan berdasarkan nilai inputnya dan ditampilkan pada variabel luas dan volume.
2. Struktur keputusan(decision)
          Pengambilan keputusan perlu dilakukan appabila harus menentukan satu pilihan dari minimal dua ppilihan yang ada. Dalam hal ini kondisi yang dihadapi perlu diketahui. Kondisi dapat berupa pernyataan perbandingan. Dalam flowchart simbol yang digunakan untuk pengambilan keputusan berbentuk belah ketupat



          Simbol pengambilan keputusan hanya memiliki satu buah input dan dua buah outpput yang digunakan untuk memfasilitasi hasil dari pppengujian kondisi yaitu ya atau tidak (True atau False).
Dalam pengujian kondisi terdappat beberapa notasi perbandingan menggunakan notasi relasional seperti berikut:

Contoh kasus
Pemimpin sebuah perusahaan otomotif perlu menentukan besarnya bonus yang akan diberikan kepada para pegawainya yang bekerja sebagai account executive. Jika terdapat pegawai yang dalam bulan ini telah menjual mobil lebih dari dua unit, maka akan mendapatkan bonus sebesar Rp 1.000.000,- kemudian pegawai yang bisa menjual mobil tepat dua buah maka, akan mendapatkan bonus Rp 500.000,- namun jika pegawai yang dalam bulan ini penjualannya kurang dari dua unit maka, pegawai tersebut tidak mendapatkan bonus.
Jika kita gambarkan persoalan di atas menggunakan flowchart maka, akan menjadi seperti berikut :


3. Struktur Perulangan(Looping)
          Dalam beberapa kasus, seringkali terdapat proses yang harus dilakukan secara berulang-ulang, sebagai contoh yang paling sederhana adalah proses berjalan kaki. Untuk bisa mencapai tujuan, kita harus melangkahkan kaki secara berulang-ulang supaya dapat menempuh jarak tertentu dan akhirnya sampai tujuan.
          Pada kasus yang berhubungan dengan pengolahan informasi menggunakan komputer, terdapat proses-proses yang harus dilakukan secara berulang, mulai dari input data, proses dan output. Program yang baik adalah program yang bisa mengoptimalkan kinerja komputer, dengan cara menggunakan kembali program atau sekumpulan program dengan proses tertentu. Atau dengan kata lain terdapat bagian program yang dapat dipanggil/digunakan secara berulang-ulang. Hal ini akan mempermudah pekerjaan programmer dalam menghasilkan solusi.
Contoh Kasus
Seorang staff IT diminta untuk menampilkan data dari sebuah tabel dimana di dalamnya terdapat seratus baris data. Jika staff tersebut harus menampilkan satu per satu, tentunya akan membutuhkan banyak kode program dan program akan menjadi tidak efektif. Bagaimana cara menyelesaikan persoalan staff IT tersebut?
Solusi:
Dalam kasus ini yang diminta adalah bagaimana menampilkan data sebanyak
100 baris tanpa harus menggunakan proses output sebanyak 100 kali. Metode yang digunakan adalah pengulangan.
Dalam proses pengulangan terdapat 3 (tiga) hal penting, yaitu:
1. Inisialisasi (penentuan kondisi/nilai awal)
2. Proses
3. Kondisi berhenti
Untuk kasus menampilkan data, dapat ditentukan bahwa jumlah baris yang akan dibaca adalah 100. Baris akan dibaca mulai dari baris pertama (baris = 1). Proses yang dilakukan adalah membaca dan menampilkan isinya ke layar (output). Pembacaan akan berhenti jika baris yang dibaca sudah mencapai baris ke-100.
Jika digambarkan menggunakan flowchart maka, akan tampak sebagai berikut:

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=745435194161305773#editor/target=post;postID=3728152105007937446;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=0;src=postname

Algoritma Pseudocode Menghitung Luas Lingkaran, Segitiga, Persegi Panjang Dan Trapesium

Algoritma Pseudocode Menghitung Luas Lingkaran, Segitiga, Persegi Panjang Dan Trapesium
Untuk memahami bahasa pemrograman setidaknya kita harus memahami algoritma, tujuannya yaitu biar kita terbiasa dan memahami logikanya. Untuk memecahkan dilema memakai algoritma, ada tiga kategori yang dapat kita gunakan yaitu, algoritma bahasa natural, algoritma flowchart dan algoritma pseudocode.

Algoritma bahasa natural yaitu urutan langkah-langkah untuk memecahkan dilema yang memakai bahasa kita sehari-hari yang gampang sekali dipahami, sedangkan algoritma flowchart yaitu pemecahan dilema algoritma memakai simbol-simblo khusus, algoritma ini akan membantu anda memahami kecerdikan proses pemecahan dilema secara visual, sedangkan algorit pseudocode merupakan algoritma yang memakai bahasa tiruan yang seolah-olah dengan arahan bahasa pemrograman yang akan digunakan.

Pada algoritma pseudocode tidak ada arahan standar, namun arahan yang dipakai merupakan arahan tiruan dari bahasa pemrograman yang ingin digunakan, kalau bahasa pemrograman yang akan dipakai yaitu bahasa pascal, maka arahan pseudocode akan mirip arahan pascal, begitu juga dikala bahasa pemrograman yang akan dipakai yaitu C++, maka arahan algoritma pseudocode juga akan mirip arahan bahasa pemrograman pascal.

Untuk lebih memahami implementasi algoritma, maka di artikel kali ini aku akan menguraikan beberapa tumpuan algoritma pseudocode untuk memecahkan dilema matematika menghitung luas lingkaran, menghitung luas segitiga, persegi panjang dan trapesium.

1. Algoritma Pseudocode menghitung luas lingkaran.

Untuk menghitung luas bulat memakai algoritma pseudocode, kita harus mengetahui  rumus luas bulat sebagai berikut:
Rumus luas bulat yaitu phi x r x r, atau 1/4 x phi x d x d.

Contoh berikut yaitu algorimat pseudocode untuk menghitung luas bulat memakai pendekatan bahasa pemrograman pascal, dimana jari-jari diinput oleh pengguna dan balasannya dicetak, yaitu sebagai berikut:

program hitung_luas_lingkaran
deklarasi
var phi : float;
var r,luas:integer;
algoritma:
phi <-- 3.14;

read(r); {diinput user}

luas <-- phi * r *r;

write(luas);

2. Algoritma Pseudocode menghitung luas segitiga

Sebelum menuliskan algoritma pseudocode untuk menghitung luas segitiga, maka kita harus mengetahui dulu rumus menghitung luas segitiga sebagai berikut:


Untuk menghitung luas segitiga, maka kita harus mengetahui tinggi dan juga bantalan segitiga tersebut.

Contoh berikut yaitu pemecahan algoritma memakai pseudocode dengan pendekatan bahasa pemrograman pascal untuk menghitung luas segitiga dimana alasnya =10 dan tingginya = 15, dan balasannya dicetak.

program hitung_luas_segitiga

deklarasi
var luas,alas,tinggi:integer;

algoritma:
alas <-- 10;
tinggi <-- 15;

luas <-- 1/2 * bantalan * tinggi

write(luas)


3. Algoritma pseudocode menghitung luas persegi panjang

Sebelum menuliskan algoritma pseudocode untuk menghitung luas persegi panjang, setidaknya kita harus mengetahui rumus luas persegi panjang, sebagai berikut:
Contoh
Algoritma pseudocode menghitung luas persegi panjang dimana panjang dan lebarnya diinput dan luasnya ditampilkan.

program hitung_luas_segi_panjang

deklarasi
var panjang,lebar,luas:integer;

algoritma:
read(panjang);
read(lebar); 

luas <-- panjang * lebar;

write(luas);


4. Algoritma Pseudocode Menghitung Luas Trapesium

Rumus perhitungan luas trapesium yaitu sebagai berikut:

 Contoh hitung luas trapesium dengan penjang sisi-sisinya AB=10, BC=6, CD=AD=8, t=7

program hitung_luas_trapesium

deklarasi
var luas, ab, cd, t:integer;

algoritma:
ab <-- 10;
cd <-- 8;
t <-- 7;

luas <-- 1/2 * ab * cd * t;

write <-- luas ;


Itulah penulisan algoritma pseudocode yang berkaitan dengan matematika untuk menghitung rumus luas lingkaran, persegipanjang, segitiga dan trapesium.


https://mataseluruhdunia208.blogspot.com/2019/01/algoritma-pseudocode-menghitung-luas.html?m=1



Penggunaan Fungsi Logika (NOT, AND, OR, IF, IF Bercabang) pada Ms. Excel


1.        OPERASI LOGIKA
Operasi logika yang digunakan adalah operasi perbandingan yang pernah dibahas pada modul sebelumnya. Untuk lebih memperdalam tentang operasi logika atau perbandingan yang digunakan dalam fungsi logika, maka perlu diperhatikan beberapa operator logika dan cara penggunanaannya.


Perhatikan tabel berikut:

OPERATOR
KEGUNAAN
CONTOH
NILAI YG DIHASILKAN
=
Membandingkan apakah nilai pertama sama dengan nilai kedua.
5=5
5=9
TRUE
FALSE
Membandingkan apakah nilai pertama lebih besar daripada nilai kedua.
7>4
7>7
TRUE
FALSE
>=
Membandingkan apakah nilai pertama lebih besar daripada atau sama dengan nilai kedua.
8>=4
7>=10
TRUE
FALSE
Membandingkan apakah nilai pertama lebih kecil daripada nilai kedua.
8<10
8<6
TRUE
FALSE
<=
Membandingkan apakah nilai pertama lebih kecil daripada atau sama dengan nilai kedua.
5<=10
8<=5
TRUE
FALSE
<> 
Membandingkan apakah nilai pertama tidak sama dengan nilai kedua.
9<>8
9<>9
TRUE
FALSE


2.        LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT FUNGSI LOGIKA
Berikut ini adalah cara atau langkah-langkah  membuat atau menggunakan fungsi logika, yaitu:
1.        Masukkan tanda sama dengan (=) terlebih dahulu pada sebuah sel.
2.        Masukkan fungsi dan logika
3.        Tekan tombol ENTER
4.        Nilai logika akan tampil pada sel tersebut, yaitu TRUE atau FALSE

3.        FUNGSI NOT, AND, dan OR
Fungsi NOT, AND, dan OR digunakan untuk menyatakan suatu kondisi sesuai dengan kondisi yang diberikan. Pernyataan yang dimasukkan akan memberikan dua kemungkinan, yaitu TRUE atau FALSE.

FUNGSI NOT()
Fungsi NOT() digunakan untuk membalikkan suatu nilai pernyataan. Pernyataan yang diperlukan adalah pernyataan yang memiliki nilai TRUE atau FALSE.
Syarat:
-           Nilai FALSE akan dihasilkan apabila pernyataan itu dipenuhi.
-           Nilai TRUE akan dihasilkan apabila pernyataan itu tidak terpenuhi.

Rumusnya : =NOT(pernyataan logika)

Contoh:                 =NOT(80=69) maka jawaban yang dihasilkan adalah TRUE.
                                    =NOT(80<>75) maka jawaban yang dihasilkan adalah FALSE.


atau perhatikan tabel berikut:

Penjelasan berdasarkan tabel di atas:
Perhatikan kolom KET. dan hasil yang dilingkari. Rumus fungsi NOT yang digunakan adalah:
1.        =NOT(H7=82) maka jawaban yang dihasilkan adalah FALSE.
2.        =NOT(H8<>82) maka jawaban yang dihasilkan adalah TRUE.


FUNGSI AND()
Fungsi AND() digunakan untuk menguji beberapa nilai atau kondisi sekaligus, sehingga memerlukan sedikitnya dua buah pernyataan (boleh lebih) berupa logika untuk menghasilkan nilai TRUE atau FALSE.
Syarat:
-           Nilai TRUE jika semua kondisi argumen dipenuhi.
-           Nilai FALSE jika salah satu kondisi argumen tidak memenuhi.

Rumusnya: =AND(Pernyataan _logika1;Pernyataan_logika2;...)

Perhatikan tabel berikut:


Penjelasan berdasarkan tabel di atas:
Perhatikan kolom KET. dan hasil yang dilingkari. Rumus fungsi AND  yang digunakan adalah:
1.        =AND(H7>75;H7>70) maka jawaban yang dihasilkan adalah TRUE.
2.        =AND(H8>75;H8>85) maka jawaban yang dihasilkan adalah FALSE.
Nilai pada contoh 1 adalah TRUE karena nilai semua sel yang dibandingkan adalah lebih besar dari nilai pembandingnya (artinya terpenuhi). Sedangkan pada contoh 2 salah satu sel yang dibandingkan yakni sel H8 bernilai tidak lebih besar (lebih kecil) dari nilai pembandingnya sehingga menghasilkan nilai FALSE (tidak terpenuhi).

FUNGSI OR()
Fungsi OR() digunakan untuk menguji beberapa nilai atau kondisi dan mengembalikan nilai TRUE atau FALSE. Ia juga memerlukan sedikitnya dua buah pernyataan (boleh lebih) berupa logika.
Syarat:
-           Nilai TRUE jika salah satu kondisi argumen dipenuhi.
-           Nilai FALSE jika tidak ada kondisi argumen dipenuhi.

Rumusnya: =OR(Pernyataan_logika1;Pernyataan_logika2;...)

Perhatikan tabel berikut:

Penjelasan berdasarkan tabel di atas:
Perhatikan kolom KET. dan hasil yang dilingkari. Rumus fungsi  OR yang digunakan adalah:
1.        =OR(H9>70;F9>60) maka jawaban yang dihasilkan adalah TRUE.
2.        =OR(H10>90;F10>60) maka jawaban yang dihasilkan adalah TRUE.
3.        =OR(H11>90;F11>90) maka jawaban yang dihasilkan adalah FALSE.

Nilai pada Contoh 1 menghasilkan nilai TRUE karena semua pernyataan terpenuhi dimana semua sel yang dibandingkan lebih besar dari pembandingnya, pada Contoh 2 juga menghasilkan nilai TRUE karena salah satu pernyataan terpenuhi dimana salah satu sel yang dibandingkan lebih besar dari pembandingnya meskipun salah satu tidak memenuhi. Sedangkan pada Contoh 3 menghasilkan nila FALSE karena semua pernyataan tidak ada yang memenuhi dimana semua sel yang dibandingkan tidak lebih besar (lebih kecil) dari pembandingnya.
4.        FUNGSI IF BIASA DAN IF BERTINGKAT
FUNGSI IF()
Fungsi IF digunakan untuk menguji suatu pernyataan apakah ia memenuhi syarat atau tidak. Pada fungsi IF diperlukan tiga buah pernyataan (boleh lebih) dengan syarat harus dalam kondisi TRUE dan FALSE.
Syarat:
-           Pernyataan pertama/logical_test;  adalah logika untuk menghasilkan nilai TRUE atau FALSE.
-           Pernyataan kedua/value_if_true; (bisa berupa apa saja) adalah nilai yang akan dihasilkan jika pernyataan pertama bernilai TRUE.
-           Pernyataan ketiga/value_if_false;  bersifat opsional (boleh diberikan, boleh dilewatkan, atau apa saja) adalah nilai yang akan dihasilkan jika pernyataan pertama bernilai FALSE.
-           Perlu Diingat, penulisan pernyataan kedua dan ketiga harus diberikan tanda kutip dua (“) jika ingin memberikan nilai berupa teks. Umumnya pernyataan-pernyataan tersebut adalah TEKS.

Rumusnya: =IF(Pernyataan1;”pernyataan2”;”pernyataan3”)

Perhatikan tabel berikut:

Penjelasan berdasarkan tabel di atas:
Perhatikan kolom KET. dan hasil yang dilingkari. Rumus fungsi  IF  yang digunakan adalah:
1.        =IF(H8>=80;"Ya";"Tidak") maka jawaban yang dihasilkan adalah Ya.
2.        =IF(H9>=80;"Ya";"Tidak") maka jawaban yang dihasilkan adalah Tidak.

Kenapa berbeda?
-           Pada Contoh 1, pernyataan1 (H8>=80) bernilai TRUE dimana nilai pada sel H8 lebih besar dari 80 sehingga logika akan menuju pada pernyataan2 yaitu (Ya).
-           Pada Contoh 2, pernyataan1 (H9>=80) bernilai FALSE dimana nilai pada sel H9 tidak lebih besar dari 80 karena hanya 77 sehingga logika akan menuju pada pernyataan3 yaitu (Tidak).



FUNGSI IF Bercabang atau bertingkat  - IF()
Jika sudah membahas tentang Fungsi IF yang telah menentukan dua buah nilai kemungkinan. Maka tantangan selanjutnya adalah bagaimana jika kemungkinan tersebut tidak hanya dua kemungkinan. Kemungkinannya bisa saja empat, lima, atau enam, dan seterusnya. Maka fungsi yang harus digunakan adalah fungsi IF bercabang atau fungsi IF bertingkat. Atau istilah lain IF di dalam IF.
Syarat:
-           Penulisan rumus hampir sama dengan fungsi IF biasa.
-           Hanya saja setiap pernyataan harus memiliki rentang nilai (interval) dan diikuti nilai berupa TEKS yang berbeda-beda.
-           Nilai setiap pernyataan hanya menggunakan nilai batas bawah dari sebuah interval.
-           Pernyataan terakhir ditulis hanya dengan nilai TEKS tanpa ada pernyataan seperti pernyataan sebelumnya.
-           Saat mengakhiri rumus fungsi tersebut, maka ditutup dengan KURUNG TUTUP yang terakhir sesuai dengan jumlah KURUNG BUKA yang telah digunakan.

Perhatikan tabel berikut:

Penjelasan berdasarkan tabel di atas:
Interval nilai yang dibuat untuk mendapatkan nilai KATEGORI AKHIR  di atas adalah:
-           Nilai A adalah 85 – ke atas atau (>=85)
-           Nilai B adalah 80 – 85 atau (>=80)
-           Nilai C adalah 75 – 80 atau (>=75)
-           Nilai D adalah 70 – 75 atau (>=70)
-           Nilai E adalah 65 – 70 atau (>=65)

Perhatikan kolom KATEGORI AKHIR dengan hasil yang dilingkari. Rumus fungsi  IF  Bercabang yang digunakan adalah:

=IF(H7>=85;"A";IF(H7>=80;"B";IF(H7>=75;"C";IF(H7>=70;"D";"E"))))

II.                    Rangkuman

1.        Operasi logika yang digunakan dalam fungsi logika adalah operasi perbandingan yaitu =, >, <, >=, <=, dan <>.
2.        Langkah-langkah  membuat atau menggunakan fungsi logika, yaitu:
-           Masukkan tanda sama dengan (=) terlebih dahulu pada sebuah sel.
-           Masukkan logika
-           Tekan tombol ENTER
-           Nilai logika akan tampil pada sel tersebut, yaitu TRUE atau FALSE
3.        Pengertian dan rumus dari fungsi NOT, AND, dan OR, sebagai berikut:
a.        Fungsi NOT() digunakan untuk membalikkan suatu nilai pernyataan. Pernyataan yang diperlukan adalah pernyataan yang memiliki nilai TRUE atau FALSE.
Rumusnya: =NOT(pernyataan logika).
b.        Fungsi AND() digunakan untuk menguji beberapa nilai atau kondisi sekaligus, sehingga memerlukan sedikitnya dua buah pernyataan (boleh lebih) berupa logika untuk menghasilkan nilai TRUE atau FALSE.
Rumusnya: =AND(Pernyataan _logika1;Pernyataan_logika2;...)
c.        Fungsi OR() digunakan untuk menguji beberapa nilai atau kondisi dan mengembalikan nilai TRUE atau FALSE. Ia juga memerlukan sedikitnya dua buah pernyataan (boleh lebih) berupa logika.
Rumusnya: =OR(Pernyataan_logika1;Pernyataan_logika2;...)
4.        Pengertian dan rumus fungsi IF, sebagai berikut:
a.        Fungsi IF()
Fungsi IF digunakan untuk menguji suatu pernyataan apakah ia memenuhi syarat atau tidak. Pada fungsi IF diperlukan tiga buah pernyataan (boleh lebih) dengan syarat harus dalam kondisi TRUE dan FALSE.
            Rumusnya: =IF(Pernyataan1;”pernyataan2”;”pernyataan3”)
b.       Fungsi IF() bertingkat
Fungsi IF digunakan untuk menguji suatu pernyataan yang kemungkinannya lebih dari dua kemungkinan. Misalnya ada 4 kemungkinan maka rumusnya;
=IF(Pernyt.1;”Nilai1”; IF(Pernyt.2;”Nilai2”; IF(Pernyt.3;”Nilai1”;”Nilai4”)))



http://rheaarchuleta.blogspot.com/2012/06/penggunaan-fungsi-logika-not-and-or-if.html?m=1


Komentar